.

.
"The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth."

Monday, November 12, 2012

Taraksa [Yang Terjatuh]



Naskah : Sutansyah Marahakim, Ilustrasi : Wicky Syailendra, Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi

Kelopak mata yang kubuka seolah tidak berpengaruh apa-apa pada jumlah cahaya yang retina terima.
Tidak ada apa-apa. Itu yang kukira. Kemudian pikiranku mulai berputar dan menanyakan apakah arti tidak ada apa-apa. Bukankah ada berarti terasa. Terukur secara zat, dan kemudian kepalaku mulai berpindah pada pertanyaan-pertanyaan mengenai makna kasat mata.
Tanpa mata, dunia ini seolah tidak ada.
Setelah sekian lama aku mencoba memahami apa yang terjadi, satu hal yang kusadari adalah buliran pasir di kaki ku terasa terlalu besar untuk kusebut pasir dan tetap terlalu rapuh untuk kusebut kerikil. Beberapa diantaranya merangkak ke pergelangan, yang lain masih tetap terkulai mati seperti sebagaimana seharusnya bulir pasir. Namun aku kira ini hanya fase awal dari inderaku yang memberontak dari tidur.
Bukan hanya kulit pergelangan kakiku yang mencoba menipu, namun telinga ini pun mulai menggaungkan nyanyian merdu tak selesai, berganti-gantian datang dan menyelesaikan satu sama lain. Bulu kudukku merinding ketika punggungku mengucurkan keringat sembari bergetar karena menggigil. Aku mencoba berkata kata namun suara yang kukeluarkan sama sekali berbeda dengan apa yang kuharapkan. Satu demi satu perangkat tangkap-duniaku mengamuk tak terkontrol, mereka membabi buta meninggalkan akal sehat, seolah marah akan diskriminasi yang kulakukan selama bertahun-tahun pada mereka, lelah menjadi anak tiri dari bola mata. Hingga setelah berjam jam aku kehilangan pegangan akan apa yang nyata dan pura-pura, mereka hentikan protes serta demonstrasi.
Yang aku bayangkan aku meringkuk di sebuah pojok yang bukan pojok, dikurung dalam kegelapan menakutkan. Sungguh ketika semua hal yang terjadi sama sekali tak terjawab alasan serta pasti, maka kita hanya bisa menyerah pada balada kegelisahan yang panik. Dan disana aku berdiam; aku rasa itu yang tubuhku lakukan meski dalam pikiran, keempat inderaku masih riuh melakukan makar sepihak, menyiksaku dalam tiap detik yang kuhitung dari ketukan tetes air yang jatuh.
Tetes air.
Aku tersadar bahwa semenjak pertama aku jatuh ke tempat ini, tetap ada ketukan tetes air.
Lalu hening.
Lalu aku merasakan sesuatu yang besar, bersiap-siap untuk mengarungi realita yang sama sekali berbeda.
Aku dengar batu kerikil yang jatuh menggelinding di sebelah kiriku. Aku mendengar namun bisa kulihat jatuhnya dengan amat jelas meski komposisi warna dan bentuknya sama sekali berbeda. Kerikil itu tidak berwarna selayaknya kerikil, tidak berbentuk seperti kerikil, juga sama sekali tidak bergulir jatuh sebagaimana kerikil jatuh. Aku tahu itu kerikil. Seperti aku tahu dinding berlumut abu abu mengelilingi seluruh tempat ini dari harumnya, juga air terjun setinggi 20 meter di atas kepalaku yang kucicipi ketika tetesan air dari stalagnit gua menelusup ke bibir. Aku melihat. Tapi kali ini tidak dengan bantuan cahaya.
Perlahan-lahan mulai terasa arti dari segala penipuan para indera. Mereka tidak mengkhianatiku, paling tidak niatnya tidak seperti itu. Ini adalah sebuah penyesuaian diri besar-besaran, sebuah persiapan akan apa yang akan datang. Beberapa siap lebih cepat, sisanya harus melewati pergulatan tanpa akal yang nyaris menghancurkanku. Hanya hampir.
Salah satu indera yang tidak menipuku semenjak awal adalah kulit yang mengelilingi pergelangan. Aku tidak pernah salah. Bulir-bulir yang kuinjak memang bukan pasir dan bukan kerikil. Beberapa diantaranya merayapi kaki karena masih menyisakan sedikit nyawa, masih mencoba bergerak meski tak menyala. Seratus juta atau lebih kunang kunang tanpa cahaya tergeletak, menghampar di sekujur gua ini. mereka tak bergerak dan terinjak injak oleh makhluk pertama di tempat ini semenjak entah kapan. Mereka tidak tidur, mereka mati. Sebuah kuburan raksasa dari salah satu makhluk suci desaku, Sang Khadyota.
‘Dari yang menyala akan mati di lembah gulita. Bangkit kemudian aku tanya; manusia dan perjuangan. Khadyota dan pembimbing malam. Sang kelinci putih bersinar lebih gelap demi reruntuhan dan penyelamatan. Kembali. Kembali. Kembali, Berhentilah terlena (kemudian) pahami bahwa melihat tak selalu berarti tahu’
Jadi ini awal dari perjalananku. Sebuah tempat yang mati. Yang sepenuhnya gelap namun justru mengajariku untuk melihat. Aku pun sekarang dengan jelas membangun sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Semua bentuk yang tidak seharusnya, warna-warna salah tempat, gerakan gerakan tak logis dan mungkin seluruh langit akan terus menguak ‘kesalahan’ ini terus menerus.
Namun salah-benar, kata kepala desa, harus perlahan kulepaskan. Standar itu semua milik dunia fana, dan ini bukanlah perjalanan mengarungi salah satunya.
Sekarang aku mengerti mengapa kepala desa membiarkan kedua sayap meninggalkan punggungku. Orientasi arah dunia ku berbalik berkat kejatuhan ini. Atas menjadi depan dan bawah menjadi belakang. Maka perjalanan langitku pun dimulai tepat ketika salah satu kunang-kunang mulai menyala dan terbang. Tidak begitu dengan diriku. Aku tidak butuh terbang untuk menuju langit. Yang aku lakukan adalah meniti langkah demi langkah.
Aku berjalan.
--

No comments:

Post a Comment