.

.
"The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth."

Saturday, October 27, 2012

Rega, Sore dan Menguasai Dunia

Oleh : Rukii Naraya
 

“Siapa Rega?”
“Sesuai akte kelahiran saya, saya terlahir sebagai seorang Rega Ayundya Putri, biasa dipanggil Rega. Saya lahir di Surabaya, dan tumbuh besar di tiga kota yang berbeda. Keluarga saya memutuskan untuk akhirnya tinggal di Jakarta, dan setelah 9 tahun menghabiskan hidup saya di Jakarta, saya mengambil kuliah di Bandung. Dan saat ini kembali ke Jakarta untuk bekerja”





“Lagi dong”
“Apa?”
“Masa kecilmu, kayak apa?”
“Masa kecil saya dihabiskan dengan komik, komik, komik dan komik. Pertama kali mata saya didiagnosis berminus ketika saya duduk di bangku SD. Kata ibu saya, saya terlalu sering membaca sambil tidur, sampai akhirnya orang tua saya hanya membolehkan saya membaca komik di hari Sabtu dan Minggu.”

“Bangun pagi di hari Minggu. Saya merindukan kartun pagi setiap hari Minggu!”
“Bahkan dulu Indosiar sempat menayangkan Tokyo Babylon di minggu pagi.”
“Wow.”
“Lalu ada hal yang tidak saya sukai dari masa puber saya”
“Apa itu?”
“Keterlambatan saya dalam mengikuti trend”
”Teman-teman saya sudah mengikuti Limp Bizkit ketika saya masih mengikuti Aya Matsura dan Do As Infinity”
“Entah salah saya atau memang trend berjalan terbalik untuk saya”
 
“Kapan kamu mulai berkesenian?”
“Saya percaya seni itu seperti virus flu”
“You may deny and not recognize it, but it’s invading us from everywhere”
“Seni rupa adalah bagian dari kebudayaan, dan kebudayaan kita memungkinkan kita untuk berhadapan dengan seni rupa sejak kita dini”
“Jadi pertama kali kita berhadapan dengan seni rupa, saya percaya, adalah momen di mana kita pertama kali mengenal garis dan warna”
“Tapi, saya baru benar-benar berkenalan ‘dunia seni’ ketika saya mengambil pendidikan Seni Rupa sebagai major saya. ‘Art World’ adalah dunia yang berbeda dengan seni rupa, di sini tidak semua objek bisa diakui sebagai karya seni.”

“Kalau ilustrasi?”
“Untuk ilustrasi, saya pertama masuk ke jalur ilustrasi ketika datang permintaan desain grafis atau ilustrasi kepada saya. Dari situ saya mencoba mengantarkan drawing saya ke arah ilustrasi, ke arah yang lebih mudah diterima orang lain, dari yang bersifat personal, menjadi sesuatu yang lebih ringan dan menjual.”



“Lalu kamu mengambil jurusan patung, bukan?”
“Apa yang dirasakan perbedaannya ketika ngilustrasi sama matung?”
“Pasti keduanya ada gimananya gitu kan?”
“Perbedaannya?Sangat banyak.Berhadapan dengan karya tiga-dimensi berbeda dengan karya dua-dimensi. Kamu harus memikirkan bentuknya tidak hanya dari depan, tapi dari setiap sudut yang visible. Studio saya mengharuskan saya untuk bekerja dengan cara kerja yang paling, kasarnya, nggak saya banget: menggunakan perhitungan, intens, memakan jangka waktu yang lama, memakan biaya yang tidak sedikit pula, dan--yang paling bertolak belakang dengan saya--rapi.”
“Tapi di balik proses yang panjang itu, hasil yang didapatkan pun jauh lebih memuaskan dibandingkan karya dua dimensi yang saya hasilkan. Selebihnya; thank god for artisan.”

“Apa yang ingin kamu sampaikan lewat karya-karyamu? kebanyakan berbicara tentang apa?”
“Karya saya tidak pernah lepas dari persoalan pada diri saya sendiri.Saya tipe pendengar, saya betah dan dengan sukarela menjadi pendengar yang baik ketika teman-teman saya bercerita atau berkeluh kesah panjang, saya menikmati posisi saya sebagai pendengar.Jadi ketika saya berkarya, saya menuntut giliran saya untuk didengarkan.”
“Maka ketika ada yang bertanya tentang isi dari karya saya, itu saya, tapi di dalam dimensi yang berbeda.Contoh kasarnya bisa dilihat dari drawing saya, beberapa yang banyak saya post di blog saya.Mereka semacam daily babblings saya; random, cablak, dan berantakan.Tapi saya tidak peduli.Saya ingin angkat bicara tentang saya, saya ingin orang peduli terhadap saya, bahwa saya juga punya keluh kesah, bahwa saya juga punya banyak cerita untuk saya luapkan.”

“Pernah kepikiran bikin komik? kenapa gak bikin komik aja?”
“Pernah dong. Kenapa tidak, karena saya belum menemukan alur cerita ultra depresif yang destruktif, yang bisa mengalahkan tear-jerking-ness-nya Oshin dan Rindu Rindu Aizawa, mashed up dengan Gen Si Kaki Ayam. Saya ingin dalam setiap jilidnya minimal ada satu orang yang mati.”

“Enakan mana matung sama ngedrawing? maksudnya yang sensasinya lebih..trus passionnya”
“Kalau enak, tentu drawing. Tapi kalau kesan, karya patung saya masih lebih meninggalkan kesan dibandingkan drawing saya.Mungkin karena prosesnya yang tidak sebentar, cerita di baliknya, bentuknya yang cenderung tidak kecil, dan visual tiga dimensionalnya yang membuat kehadirannya lebih dekat dengan kita sebagai audiensnya.Salah satu cita-cita saya sebenarnya adalah menciptakan karya yang monumental.Jadi, mungkin mematung adalah passion-in-denial saya.”

“Karya paling oke yang pernah kamu buat?”
“Dalam artian mungkin prosesnya paling kamu rasa paling mengesankan”
“Hmm!”
“Karya saya yang paling berkesan bukan karya saya yang  paling oke sebenarnya, dia bahkan masih belum bisa disebut karya tapi lebih sebagai studi. Namanya standing figure, dia adalah tugas pertama kami ketika memasuki jurusan patung.Dalam semester pertama kami di studio patung, kami diharuskan untuk membuat model manusia berskala 1:1 dari tanah liat. Di situ pertama kalinya kami berkenalan dengan teknik modelling, pertama kalinya saya menghabiskan waktu yang panjang (satu semester, sama dengan 6 bulan) untuk satu buah karya, pertama kalinya saya tinggal (iya, tinggal as in live in) di kampus, mungkin juga pertama kalinya saya mengajak ngobrol karya saya. Sangat berkesan juga karena pertama kalinya kami berkenalan dengan tubuh kami lewat sudut pandang yang berbeda.Tahukah kalian bahwa tubuh kita sebenarnya adalah satu kesatuan irama yang saling berhubungan? Waktu pertama mengetahuinya, saya seperti, sial! Allah hu Akbar indeed.Di situ juga pertama kalinya saya bertemu dengan dosen favorit saya, yang akhirnya menjadi pembimbing tugas akhir saya.”
“Setelah 6 bulan mencoba belajar anatomi, dan menghasilkan sebuah model yang saya coba gambarkan seperti saya (perut buncit, bahu lebar), karena tanah liatnya akan dipakai lagi untuk semester berikutnya, kami diharuskan untuk menghancurkannya setelah penilaian. Ketika akhirnya proses penilaian selesai, saya diserang perasaan ingin-menangis-alert. Setelah 6 bulan bersama, sekarang saya sendiri yang harus menghancurkannya?Aduh.Saya merasa sangat tidak tega.”

“Akhirnya saya dan teman saya bertukar posisi, berbarengan dia menghancurkan figur saya, dan saya menghancurkan figurnya.Proses anarkis itu sempat didokumentasikan dalam bentuk video oleh teman saya yang tiba-tiba datang membawa kamera (pas banget, deh).”

“Kalau ditanya siapa yang menginspirasimu, siapa coba?”
“Ibu saya. Dia bukan seniman, bahkan pekerjaannya jauh dari seni rupa, seleranya dalam berpakaian patut dipertanyakan, suaranya cempreng kalau menyanyi, diajak curhat soal asmara pun payah, tapi dia adalah gambaran superhero yang sempurna bagi saya. Kuat, tapi juga rapuh.”
“Jangan kasih tahu dia tapi ya kalau saya mengidolakan dia, selain karena orangnya mudah ke-ge-er-an, saya gengsi”

“Your biggest dream?”
“Banyak.Ke luar angkasa. Merasakan anti gravitasi, masuk ke dalam black hole dan kembali lagi. Menemukan kembali Atlantis. Oh dan saya sangat, sangat, sangat, sangat ingin punya mesin waktu. Salah satu obsesi saya adalah melihat dinosaurus langsung dengan mata kepala saya sendiri.”

Now, what do you think of your own artwork?
Saya benci karya saya.Melihat mereka seperti melihat saya yang dulu.Ada rasa kecewa, benci, tidak puas, tapi juga ada rasa sayang, bangga, juga rasa harap. Untuk ke depannya, saya masih mencoba mencari cara untuk menguasai dunia. Untuk sementara fokus saya masih ke Jawa Barat dulu, setelahnya baru ke luar pulau.

2012
www.merekah.blogspot.com

1 comment:

  1. makin lama makin tajem karya nya. mungkin karena makin dewasa. tapi tetep ga berubah goresannya. patung yg lo bikin pun ga jauh beda goresannya biarpun beda dimensi.

    semoga manusia bisa berpiknik ke blackhole dengan selamat sampai kembali.

    ReplyDelete