.

.
"The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth."

Monday, September 24, 2012

APUNG DAN BASALT

Cerita sangat pendek oleh Kanya K, Drawing oleh Pondra Gilang


“Siapa dirimu? Ceritakan lebih lanjut mengenai dirimu.”
Nahas, memalukan. Bahkan siapa dirikupun aku tak tahu, berapa mukaku pun tak dapat dihitung. Karena semenjak hari itu, aku kehilangan jati diriku. Dan sekarang, ketika ku ditanya oleh seorang interviewer untuk memasuki suatu lapangan pekerjaan, apa hasilnya? Nihil, aku tak tahu harus menjawab apa. Sangat memalukan, wahai teman-teman sekalian! Namun setelah aku menghabiskan waktu beberapa saat, aku mulai berani berbicara.

“Diri saya? Saya batu, batu apung.” Pernyataan ini sempat menghasilkan kerutan di dahi bapak tua. Memang, pasti membingungkan, namun itu adanya, aku adalah sebuah batu apung. “Saya melihat diri saya sebagai sebuah batu apung. Padat dan berdinding gelas,” makin sukses menerbitkan rautan muka bapak itu menjadi jauh lebih bingung.

“Silahkan, ceritakan lebih lanjut…” ujar Bapak itu, lalu ia berdiam diri dan membiarkanku bercerita.

Perempuan, makhluk hawa lulusan planet venus, ciptaan terindah yang pernah diciptakan Tuhan. Karena jujur, satu-satunya mahkluk yang pernah aku puja, cuma satu, yaitu wanita. Karena saat itu di tahun 2010, aku berani jatuh cinta.

Aku terjatuh dari jeratan seorang wanita di awal bulan Januari, menemukannya duduk manis mengemut permen loli di taman sekolah, tepat di bawah pohon rindang. Duduk sendiri, manis. Aku yang terpikat akhirnya berhasil mendekati.

Dari hari ke hari, kuberikan post it kecil bergambarkan hati, tanpa memberikan satu patah kata, namun aku tetap di sana duduk manis disebelahnya, karena saat itu pena adalah lidahku dan post it  adalah sahabatku, ku bergantung padanya sebagai media penyampaian rasa sayangku.

Satu bulan kubiarkan semuanya begini, berjalan seperti apa adanya, dan kurasa gadis mungil pecinta permen loli itu tak keberatan. Di bulan maret, ia membuka percakapan, “sudahkah lelah kau begini? Sudahkah cukup?” Tetap dalam senyuman manisnya. Lalu aku termangu terdiam, dan ia memelukku, memberikan tumpukan post it yang aku berikan padanya, dan pada akhirnya dia membisikan satu kalimat tercantik yang pernah kudengar, “aku juga sayang kamu, aku tau kamu juga begitu.”

“Kamu kaku, sangat kaku. Keras, namun gampang hancur,” urainya setelah sembilan bulan kita bersama. Selama ini kita bisa bertahan, namun dilandasi oleh kecengenganku, sangat malulah aku dibuatnya. Selama ini kita bisa bersama, dilandasi kesabarannya menghadapi diriku yang gampang retak. Karena setelah sembilan bulan, ia tak tahan, pergi meninggalkanku yang berantakan.

Ia berikan suatu lukisan kepadaku, tidak bagus layaknya lukisan kebanyakan orang yang memiliki bakat seni, melainkan gambar sebuah batu. Sedikit terang, padat dan bergelembung. Di belakang kanvas, ditempelkan selembar kertas yang bertuliskan, “KAMU ADALAH BATU APUNG, PADAT DAN KAMU KAKU, NAMUN BERDINDING GELAS KARENA KAMU RAPUH. PERGILAH, JADILAH BASALT YANG KUAT DAN KERAS.”

***

“Jadi begitu, Pak. Tujuan saya bekerja di pekerjaan ini untuk metamorfasi, dari batu apung menjadi batu basalt. Saya bertekad besar untuk merubah gaya hidup saya, menjadi lebih kuat dan firm,” mengakhiri ceritaku, asal usul cerita batu apung. Karena benar adanya, perkataan itu yang mendasari pedoman hidupku, yang menjadi pacuan diriku menjadi seorang yang lebih baik. “Jadi, Pak, bantulah saya menjadi lebih baik. Percaya pada saya, Bapak tidak akan pernah menyesal hire saya dipekerjaan ini.”

1 comment:

  1. "Perempuan, makhluk hawa lulusan planet venus" makes me smile :))

    ReplyDelete