Artbook Exhibition.
"LEMBARAN
PUISI DI MEJA MAKAN"
Kelas Pagi Yogyakarta
Jl. Brigjend Katamso
Prawirodirjan GM II
/ 1226
Gondomanan –
Yogyakarta
19 - 26 Mei 2012
Puisi di meja makan. Saya sendiri tersenyum ketika akhirnya kita memutuskan judul ini sebagai final. Apalah arti meja makan? Saya, kamu dan banyak orang lainnya mungkin cuma menghabiskan waktu kurang 20 menit disana tiap hari (setidaknya saya, saya lebih suka makan di sofa teras). Ia menjadi bagian dari benda sehari-hari yang seperti diungkapan Heidegger, menyatu dengan kita sampai-sampai keberadannya tak disadari. Tapi jika mau dilihat dengan sudut pandang lain, meja makan bisa menjadi spesial, setidaknya dalam Legenda Raja Arthur. Ksatria meja bundar yang tenar itu dicetuskan di meja pertemuan yang juga merangkap meja makan. Konon Arthur memerintahkan mejanya dibuat bulat supaya sluruh ksatria yang bergabung didalamnya merasa setara dan diperlukan setara. Meja makan membuktikan bahwa bentuk bisa dilihat sebagai makna.Jadi, kawan marilah kita mulai berpikir bahwa yang indah, ada yang mengakrabkan di meja makan kita (walaupun meja makan kamu bentuknya mungkin persegi panjang).
Sekarang setelah kita belajar melihat bahwa
meja makan itu indah (setidaknya secara konteks) kita melihat ada embel-embel
puisi diatasnya. Jangan langsung berpikir soal dunia yang melankolis dan lain
sebagainya. Jika kalian ingat puisi ‘Aku ini Binatang Jalang’ kita akan sadar
bahwa berpuisi bisa berarti bergelegak amarah juga tapi lupakan Chairil Anwar
dan penyair lainnya. Mari kita menengok pendapat Aristoteles dalam karya
Poeticnya. Ia menyatakan bahwa puisi dan drama (yang akhirnya oleh para
sejarawan modern dijadikan suatu bentuk pars pro- toto buat semua jenis seni)
memiliki fungsi Katartik, yaitu sebagai alat untuk mencapai kelegaan jiwa,
pembersihan diri, menuju sesuatu yang transenden dan absolut. Semacam
self-help.
Jadi bagaimana jka rangkaian kalimat
denotasi ‘Puisi diatas meja makan’ tersebut menjadi konotasi ketika kita
berhasil mengundang teman-teman desainer dan seniman dari berbagai kota untuk
datang ke ‘meja makan’ dan ‘menaruh puisi’ mereka diatasnya. Tentu saja ‘puisi’
dapat diwujudkan dalam berbagai cara tapi kali ini mereka kita tantang untuk
mewuudkannya dalam bentuk ‘picture book’. Bagi yang belum familiar dengan
picture book, istilah itu digunakan untuk sebuah buku yang menempatkan porsi
antara gambar dan teks sama pentingnya. Perbedaan dengan ilustrasi pada umumnya
yang berfungsi melengkapi teks, menurut penulis Barbara Kiefer "In the
best picture books, the illustrations are as much a part of the experience with
the book as the written text." Tidak heran kalau picture book diidentikkan
dengan bacaan ringan dan bentukannya berupa ‘basic starter book’ unntuk
anak-anak.
Saya sendiri tidak setuju bahwa ‘picture’
disini adalah hal yang mudah. Ia merupakan bagian dari teks-teks yang mewujud
dan merupa sehingga pembuatannya tidak hanya melibatkan pemikiran tapi juga
rasa. Jadi saya senang sekali ketka teman-teman yang mengikuti ‘meja makan’
kita entah mendekonstruksi atau merevisionisi pandangan tentang picture book
itu. Picture book mereka adalah sebuah tantangan untukt kita semua yang merasa
visual literary, alias melek visual-nya grade A untuk belajar membaca gambar
(dan mungkin juga teks) secara baru.
Dalam hal konten, seperti yang sudah
disebutkan soal fungsi katartik, hampir semua dari mereka membuat picture-book
ini dengan intensi tersebut. Ada cinta, kesenangan, sedih, marah, hingga
kontemplasi. Beberapa dari mereka adalah penggambar yang sangat baik, yang
lainnya storyteller berbakat tapi yang pasti mereka semua tidak pernah gagal
untuk membuat kita terjebak dalam karya mereka. Pada akhirnya puisi di meja makan
dimaksudkan sebagai sebuah meme. Ia menulari kita untuk lebih peka, lebih
intim, untuk bercerita. Pameo ‘Mangan ora mangan yang penting ngumpul’ mungkin
memang ada benarnya.
Riezky Putra
ARTIST
Toro Elmar, Syennie Valeria, Ivan Jasadipura, Agatha Vania Karina, Rizky Ramadhan, Nindita Kirana, Rega Ayundya Putri, Fransisca Retno, Rifda Amalia, Maradilla Syachnidar feat Ykha Amelz, Kara Andarini, Claudia Dian, Doni Maulista, Faisal Yeroushalaim, Anggito Rahman, Rukii Naraya, Luki, Kurniadi Widodo, Andhika Wicaksono Sasmoro, Rato Tanggela, Yerikho Iyek, Aulia Vidyarini, Isa Panic Monsta, Roby Dwi Antono, Rizal Alam, Adnan Roesdi, Pondra Gilang, Darmawan Aji, Ervin Ruhlelana, Ira Puspitaningsih, Lina Zainal, Andara Shastika.
------------------------
Dokumentasi pembukaan: Lembaran Puisi Di Meja Makan
No comments:
Post a Comment