.

.
"The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth."

Saturday, November 19, 2011

INTERVIEW WITH DIANI APSARI


Oleh Nadya Natasha


Siang itu cukup panas, kami bertemu di sebuah kedai kopi di pinggir kota Jakarta. Perempuan bertalenta itu sudah duduk menunggu kedatanganku yang terlambat beberapa menit.
Hai, Diani ya?”
Iya. Kita kita mau duduk disini aja atau dimana?”, jawabnya ramah.
Setelah memilih tempat duduk paling nyaman dan memesan 2 gelas kopi bercampurkan karamel, kami pun mulai saling mengenal dan bercerita.

“Bagaimana kehidupanmu di masa kecil?
Lahir dan tumbuh besar di Bandung. Masa kecil Saya cukup bahagia.. umum seperti perempuan lainnya Saya juga pernah punya koleksi boneka barbie. Dari dulu selalu sekolah dekat dengan rumah. Dulu sebenernya ingin masuk ke SMP favorit di Bandung, tapi karena cukup jauh dari rumah jadinya gak dibolehin sama orang tua. Selama masa remaja pun pernah mengalami beberapa transformasi dari mulai gaya punk, indie sampai ke tomboy.” Ujar perempuan penyuka kuliner ini.


Setelah menyelesaikan studinya di FSRD Institut Teknologi Bandung, saat ini Diani Apsari bekerja untuk untuk Centro Department Store divisi visual merchandiser bagian grafis.

“Apa yang paling menarik dalam hidupmu sampai saat ini?
Hmm apa ya? Banyak sih. Sepertinya hidup saya cukup lucu, hahaha”
Kalau tentang menggambar ada yang paling Saya ingat. Saya dulu langganan majalah Bobo dan koran Republika. Nah, di Republika suka ada kontes gambar. Waktu itu iseng aja disuruh mama juga buat ikutan kirim. Akhirnya menang, dimuat di korannya dan dapet uang 35 ribu. Pada saat itu seneng banget, apalagi kan masih kecil. Dapet uang langsung dipakai untuk beli pensil warna.”
Ada juga cerita sedih
Jadi ibu saya punya teman, dia sakit kanker. Terus waktu itu Saya jenguk dia ke rumah sakit, pas disana Saya sempet bertanya ‘tante mau makan apa?’ lalu dia jawab ‘mau makan Rafioli’ akhirnya dicariin sama anaknya dan Saya pulang abis itu. Eh besoknya dapet kabar dia udah meninggal. Sampe sekarang kalau Saya ke tempat makan Italia dan melihat Rafioli di menunya, Saya pasti teringat dengan si Tante ”

Apa yang mempengaruhimu dalam hidup dan berkarya?
Hal-hal disekitar saya, orangtua dan pacar”
Ada sebuah film judulnya Le.Fabuleux.Destin.d'Amélie.Poulain, itu film dari Perancis dan juga dari buku-buku jadul kaya Tin-Tin dan buku serial Tina dari Belanda. Mostly yang banyak inspirasi saya itu yang berbau vintage sih. Bahkan dalam berkarya.”

Sejak kapan dan gimana akhirnya sampe bisa kenal dengan dunia seni?
Dari kecil memang sudah suka ngegambar. SD kelas 1 sudah ikut les dan juga ikut lomba-lomba menggambar antar kelas. Dulu saya suka menang lombanya dan merasa ada suatu pencapaiannya dari menggambar. Kalau kebanyakan teman waktu kecil pas ditanya mau jadi apa dan kebanyakan dari mereka jawab dokter atau astronot, saya selalu jawab kepengen jadi pelukis. Selain itu juga karena ayah orang seni juga jadi keluarga pun selalu support saya dalam dunia seni.”

Media apa yang dipakai buat berkarya? Nyaman gak sama media itu?
Sampai saat ini masih menggunakan watercolor. Watercolor itu salah satu media yang sulit namun saya menikmatinya dan tetap merasa nyaman soalnya feel-nya lebih dapet.”
Pernah coba media lain?
Hmm.. waktu itu pernah sih nyobain digital coloring, tapi gasuka. Selain itu juga pernah nyoba acrylic. Enak juga dipakai tapi belum mencoba lagi jadi masih belum explore lebih jauh.”

Kenapa awalnya bisa jadi desainer?
Awalnya itu dulu saya bersama 3 orang teman membuat desain untuk tugas kuliah. Nah bulan Mei 2009 kita iseng ikut Indonesia Graphic Design Award pakai desain tugas kuliah kita itu, dan ternyata menang juara 1! Dari situ ditawarin mendesain buat company profile untuk kandura keramik”

Tantangan apa yang suka ada setiap ngerjain proyek?
Tantangannya adalah dimana saya cuma bisa ngerjain proyek sehabis pulang kerja. Harus keep things in balance antara kerja dan berkarya.”

Sejauh ini proyek apa yang paling menarik buat kamu dan kenapa?
Yang paling menarik ketika bikin ilustrasi cover L’alphalpha karena gambar anak-anak kecil dengan suasana rada jadul.

“Apa rasanya ketika berkarya?”
"Saya selalu merasa harus bisa melakukannya semaksimal mungkin."

“Siapa orang/designer/illustrator favorit yang mempengaruhimu dan memberikan inspirasi dalam berkarya?”
"Ada Pak Suyadi, illustrator yang bikin Si Unyil. Karyanya simpel hanya menggunakan pena tapi berasa banget. Terus juga Tino Sidin karena apresiasinya yang tinggi. Sama Marjane Satrapi seorang komikus perempuan dari Iran."

“Apa yang ingin kamu ceritakan dari karyamu?”
"Karena tertarik sama anak-anak kecil yaa lebih senang kalau menceritakan anak kecil di jaman dulu yang saya mix sama keadaan sekarang plus kejadian sehari-hari"

“Walaupun pertama kalinya bikin ilustrasi architectural untuk buku 'a life traveler' tapi akhirnya kamu berhasil juga. Pernah ngerasa ada ketakutan/keraguan tersendiri ga dalam menerima proyek desain yang baru seperti itu?”
"Sedikit. Karena kelemahan saya adalah kesulitan untuk menggambar perspektif."

“Setelah sukses dengan proyek ilustrasi yang udah-udah, rencana kedepannya mau ngapain di dunia design? Bikin suatu gebrakan mungkin?”
"Ingin membuat karya yang ukurannya lebih dari A3 dan mau punya karya pribadi yang berkonsep. Cuma sejauh ini gue belum berada di taraf percaya diri untuk menjual karya."

2011

No comments:

Post a Comment

Post a Comment