By: Rukii Naraya

Hujan baru saja berlabuh. Riuh, melantun melodi yang monoton terdengar dari luar jendela ruangan ini. ini sebuah ruangan yang cukup luas. Syennie Valeria berada di hadapanku. Matanya tajam menatap secarik kertas. Tangannya mengayunkan kuas yang terbalut cat berwarna merah.
“Ceritakan padaku tentang karya-karyamu, Syennie” aku bertanya padanya. Ia berhenti menguaskan selembar kertar itu, kemudian menatapku.
“karya-karyaku pada awalnya lebih mendeskripsikan keceriaan dengan warna-warna terang dan pernik dekoratif nan ceria, tapi entah mengapa seiring waktu karya tersebut berubah menjadi sesuatu hal yang sensitif dan agak feminis..aku belajar setiap waktunya untuk lebih bisa mengekspresikan perasaan dan menginterpretasikan berbagai hal dalam hidup ini lewat gambar. gambar yang aku buat setiap kali membuat aku penasaran, karena ketika memulai aku tidak pernah mengimajinasikan seperti apa “penampakannya kelak”, semua mengalir apa adanya. seperti hidup ini, penuh dengan kejutan.” ia tersenyum.