Oleh: Erang Risanto
Apa yang anda pikirkan ketika membaca komik? Lucu, menghibur, atau hal menggembirakan lainnya? Membaca komik memang menyenangkan, tapi pernahkah anda berpikir kalau komik tidak sesederhana itu? Dengan tidak bermaksud “menyederhanakan” makna kesenangan yang terkandung dalam komik, penulis mencoba untuk berbagi hal lain yang terdapat dalam komik.
Memang pada mulanya komik berkaitan dengan segala sesuatu yang lucu, karena ketika dirunut dari segi epitimologis, komik berasal dari kata komikos (Bahasa Yunani kuno) yang berarti ‘bersuka ria’ atau ‘bercanda’. Atau kalau dirunut dari bahasa Belanda, ditemukan kata komiek yang berarti ‘pelawak’. Namun kembali lagi ke persoalan awal, apakah komik ‘hanya’ sekedar mengejar kelucuan semata? Adakah hal lain selain lucu? Tentu ada.
Beberapa uraian ‘serius’ tentang komik berikut ini mungkin bukan hal baru, namun paling tidak menunjukkan bahwa komik tidak sekedar lucu dan sambil lalu.
Komik telah menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan. Sekitar tahun 1957, di barat telah lahir suatu pemikiran yang dipelopiri oleh F. Lacassin yang mempelopori “seni kesembilan” di mana komik termasuk di dalamnya. Di Perancis sejak tahun 1958, E. Morin, seorang sosiolog, muncul di antara orang-orang yang membela komik di majalah Le Nef. Berkat rangsangan F. Lacassin dan sineas Alain Resnais pada tahun 1962 dibentuk Klub Komik yang pada tahun 1964 berkembang menjadi Centre d’Etudes des Litteratures d’ Expression Graphique (C.E.L.E.G) atau Pusat Kajian Sastra Grafis. Berbagai komik diterbitkan kembali sehingga komik juga memiliki sejarawan, ahli estetika sampai ahli tafsir walau masih banyak para moralis dan pendidik menganggapnya sebagai ”racun”.
