oleh Lana Syahbani
Lampu sorot mengarah ke seluruh tubuhku.
Saking terangnya aku tak dapat melihat apa pun, kecuali putih. Perlahan mata
ini menyesuaikan diri. Sekitarku gelap, hitam. Hanya diriku yang terlihat
berkilau. Entah ada yang hidup atau tidak selain aku di tempat ini, yang jelas
aku bersyukur aku masih tersadar dalam terang.
‘Tap!’
Sinar matahari pagi membangunkanku. Ternyata mimpi.
Rumahku yang menghadap ke arah timur, memandikan seisi kamarku dengan cahaya
matahari setiap pagi di musim kemarau. Satu hal yang membuat hal itu
memungkinkan, aku tak suka tirai yang menutupi jendela. Tirai hanya menghalangi
pandanganku pada alam. Sudah cukup setiap hari aku bekerja di dalam gedung
kantor yang sempit.

.jpg)