.

.
"The stars shall fade away, the sun himself grow dim with age, and nature sink in years, but thou shalt flourish in immortal youth."
Showing posts with label Brigitta Isabella. Show all posts
Showing posts with label Brigitta Isabella. Show all posts

Monday, October 24, 2011

Tentang Guy Bourdin, Pantat-Pantat Seduktif, Kaki-Kaki Mulus dan Fotografi

Oleh: Brigitta Isabella




Perempuan itu berambut coklat, wajahnya diselimuti riasan wajah tebal, kontras dengan warna kulit putih pucat, dan tentu saja pantat mulusnya. Ada darah merah menyala keluar dari mulutnya. Darah itu terlihat artifisial, lebih terlihat seperti warna cat kuku.

Pada fragmen lain, seorang perempuan telanjang tergeletak di meja. Masih dengan riasan tebal dan warna tubuh yang pucat. Di sebelah kirinya seorang gadis bergaun biru bercorak putih, menatap kosong dengan leher yang terjerat tali.

Pornografi? “Don’t make me laugh. This is art.”, kata Guy Bourdin seorang fotografer Perancis terkenal di era 70-an, pria jenius yang membuat foto-foto ini. Guy Bourdin dikenal sebagai orang yang obsesif. Tidak ada bukti yang menjelaskan jika ia memang memiliki kelainan perilaku seksual, namun perlakuannya pada model-modelnya memang agak aneh. Model-model perempuan dalam karya Bourdin memang seperti sengaja disiksa melakukan pose dengan sepatu high heels yang mematikan, korset ketat yang membuat sulit bernafas dan bergerak, membentuk suatu postur tubuh yang janggal.

Sunday, October 23, 2011

FOTOGRAFI TEMPO DOELOE DAN MEMORI KOLEKTIF KITA

Selintas Fotografi Era Kolonial

“Saya seringkali berharap bahwa saya memiliki mesin foto dan dapat mengambil gambar rakyat kami—sebagaimana hanya saya yang dapat melakukannya, dan bukan Eropa. Ada begitu banyak hal yang ingin saya jadikan kata-kata dan gambar-gambar, agar orang Eropa dapat memperoleh gambaran murni tentang kami orang-orang Jawa.”
Foto 1. Raja Jawa oleh Kassian Chepas
Foto 2. Seorang puteri Jawa di studi foto oleh Kassian Chepas
Kalimat tersebut keluar dari mulut seorang puteri sejati seorang aristrokat dan pegawai Jawa, sang ikon emansipasi perempuan di negeri kita yakni Raden Ajeng Kartini pada tahun 1900. Dalam surat-suratnya yang terkumpul dalam Dari Gelap Terbitlah Terang kita dapat membayangkan bagaimana kekaguman seorang Kartini muda terhadap mesin kamera yang pada masa itu merupakan sebuah teknologi mutakhir. Dari kutipan kalimat di atas, tampak pula kesadaran Kartini akan kemampuan fotografi dalam menciptakan citra-citra, sehingga ia menganggap bahwa jika ia memotret rakyatnya, ia akan menghasilkan sebuah “gambaran murni” tentang orang Jawa, bukan citraan lain yang mungkin dihasilkan oleh orang Eropa.

RYAN MCGINLEY: so young so artsy


By: Brigitta Isabella

Ryan McGinley. Naked Highway, 2007 (merupakan cover album kelima Sigur Ros, Með suð í eyrum við spilum endalaust atau With Buzzing in Our Ears We Play Endlessly)
Ryan McGinley. Naked Highway, 2007 (merupakan cover album kelima Sigur Ros, Með suð í eyrum við spilum endalaust atau With Buzzing in Our Ears We Play Endlessly)
Youth, nude and freedom adalah tiga kata yang menurut saya sangat menggambarkan karya-karya fotografi Ryan McGinley. Mcginley bukan hanya berjiwa muda, dia memang masih muda. Usianya baru 24 tahun saat menggelar pameran tunggal di Whitney Museum of American Art, alias orang yang paling muda yang pernah berpameran disitu pada tahun 2003. Pada tahun yang sama dia dianugerahi “Photographer of The Year” oleh American Photo Magazine dan tahun 2007, dia kembali mendapat penghargaan dari International Center of Photography. Aric Chen dalam majalah Wallpaper April, 2008 menyebut Ryan Mcginley sebagai: “His generation’s unofficial portraitist, and ringmaster of wandering youth.”